TRIBUN - Apakah Anda pernah membaca dongeng atau menonton film Alice in Wonderland? Di dalam cerita itu, ada tokoh-tokoh yang memiliki ukuran anggota tubuh yang tidak biasa. Jika di film Alice in Wonderland yang terbaru, karya Tim Burton, tokoh Red Queen (Ratu Merah), yang diperankan Helena Bonham-Carter memiliki ukuran kepala yang lebih besar dari tubuhnya. Coba Anda bayangkan jika orang-orang yang biasanya berukuran selayaknya orang kebanyakan, tiba-tiba terlihat seperti itu. Itulah apa yang dilihat Olivia Watts (6).
Olivia didiagnosa penyakit saraf yang disebut Sindrom Alice in Wonderland. Ia seringkali melihat ukuran tubuh orang-orang di sekitarnya seperti lewat kacamata cembung. Bagian kepala atau tubuh orang-orang yang dilihatnya terlihat seperti membesar tiba-tiba.
Pada awalnya, murid taman kanak-kanak di Pipersville, Amerika Serikat ini tak berani menceritakan pandangannya. Namun ibu Olivia, seperti dikutip dari MSN menceritakan, Olivia mulai berani bercerita kepada ibunya sekitar setahun lalu. Mulanya hanya terjadi beberapa detik, lalu menjadi beberapa menit, lalu bertahan dua minggu, tapi sempat pula menghilang berbulan-bulan.
Berniat mencaritahu permasalahan pada anaknya ini, ibu Olivia mengunjungi ahli saraf. Dari para dokter ahli, ia diberitahu bahwa Olivia mengalami semacam letupan migren mini di dalam otaknya. Ini merupakan semacam bentuk langka dari migren. Biasanya tidak diawali dengan rasa sakit di dalam kepala. Umumnya, hal ini didapat dari turunan yang mungkin hanya memiliki kondisi migren standar. Kondisi ini bisa memengaruhi indera penglihatan (secara ukuran dan kedalaman), pendengaran, peraba, dan logika waktu, membuat mereka sulit untuk bergerak cepat.
Menurut Dr William Young, kondisi ini umumnya tidak membahayakan. Dokter yang bekerja di Jefferson Headache Center di Thomas Jefferson University, Philadelphia ini mengatakan, ia belum pernah bertemu orang yang merasa migren itu merusak hidup secara membahayakan. Otak orang yang mengalami migren ini secara keseluruhan berbentuk dan berukuran normal, namun, kadang suka bertingkah saja.
Dalam sindrom Alice in Wonderland, para dokter percaya, hal ini memengaruhi lobus oksipital, yang mengkontrol mata dan letak pusat aura migren. Aura, sensasi visual yang mendahului migren bisa terpicu karena stres, makanan tertentu, dan anggur biasanya berlangsung selama 60 menit. Namun, penyebab pasti sindrom Alice in Wonderland belum diketahui.
Para ahli percaya, bahwa sindrom ini tak terlalu banyak dikenal karena banyak pasien yang enggan membicarakan apa yang mereka rasakan. Biasanya hal ini diderita oleh anak-anak. Sayangnya, menurut Dr William, para pasien ini memiliki pemikiran bahwa merekalah yang salah. Mereka berpikir bahwa tubuh merekalah yang berubah.
Bahkan ada yang menyalahartikan kondisinya. Kadang, ada anak yang melihat kapur di depan matanya terlihat sangat jauh dan ia tak bisa menggapainya (teleopsia). Mendengar hal ini, kebanyakan guru atau orangtua kemudian merujuk anaknya ke dokter mata. Padahal, hal ini terjadi karena interpretasi penglihatan pada otak sedang tidak bisa memberikan gambaran yang benar. Bahwa mata si anak sebenarnya tidak ada masalah, melainkan ada pada kondisi otaknya.
Anak dengan kondisi sindrom Alice in Wonderland bisa saja tumbuh dan kondisinya membaik hingga menjadi migren yang biasa. Namun, Dr William tetap menyarankan cek kondisi otak untuk kondisi yang lebih serius, seperti epilepsi, tumor, atau infeksi pada otak (encephalitis) lewat MRI. (Kompas.com)