SUNGAILIAT, TRIBUN - Konversi dari minyak tanah ke gas belum diberlakukan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Infrastruktur dan sistem transportasi kilang gas yang tak tersedia penyebabnya sehingga biaya gas menjadi mahal.
"Dari provinsi sudah mengusulkan pipanisasi gas dari Palembang. Kita tahu Natuna sebagai penghasil gas tetapi masyarakat disana juga tidak menikmatinya yang menikmatinya lebih banyak Singapura. Begitu juga kita penghasil gas tetapi tidak bisa menikmatinya. Minyak dan gas yang dihasilkan Sumatra dan Kalimantan lebih banyak diekspor," ungkap Noer Nedi Kepada Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Babel.
Hal itu dikatakan Noer Nedi dalam sambutannya saat membuka acara sosialisasi Perlindungan Konsumen Migas yang dilaksanakan Departemen Energi dan Sumber Daya Direktorat Mineral Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Rabu (14/7) di Parai Becah Hotel Sungailiat.
Selain itu ia mengkhawatirkan banyaknya peristiwa meledaknya tabung gas 3 kg di tengah upaya pemerintah melakukan konversi dari minyak ke gas ini yang memprihatinkan.
Belum terlaksananya konversi dari minyak ke gas di Babel ini dibenarkan Ketua Hiswanamigas Babel, M Husni kepada wartawan.
"Kalau tidak salah SPBG belum rampung. Rencanya SPPG ini di Selindung. Kalau SPBG sudah rampung akan melaporkan Pertamina kami sudah siap kemungkinan baru akan digulirkan. Jadi perkiraan kami tahun depan," jelas Husni.
Sementara mengenai kekhawatiran pengunaan gas khususnya tabung 3 kg yang banyak terjadinya ledakan, Husni mengatakan Hiswanamigas tidak menangani masalah ini.
"Tidak tahu saya. Itu Pertamina punya, cuma program kita (konversi dari minyak ke gas, Red) di Babel ini terakhir," kata Husni.
Laporan: bangkapos/chy | Editor: nip