Youngster
Buat Daun Mangga Jadi Dompet
Tribun Pontianak/DIAN LESTARI

JANGAN heran kenapa bisa seperti itu, soalnya mereka punya kegiatan bareng membuat dompet dari daun mangga. "Iya, waktu ngumpul jadi saling tanya ada stok daun mangga ndak? Ada ketemu pohon mangga yang ditebang ndak? Terus kita bagi-bagi tugas dan tentukan kapan target menyelesaikannya," kata Rini, saat ditemui Tribun, Minggu (8/11) di kampus mereka berlima, Politeknik Negeri Pontianak, Jl A Yani. 


Si pencetus ide kreatif ini adalah Rini dan Dayang. Sekitar setahun lalu saat jalan-jalan ke mal, keduanya mendapatkan buku panduan proses pembuatan kerajinan tangan dari daun mangga di toko buku Gramedia.


Berbekal buku seharga Rp 20 ribu itu, Rini dan Dayang mengajak tiga temannya yang sering ngumpul bareng, untuk membuat kerajinan itu. Mereka mencari daun mangga dan di workshop kampus coba-coba merebus daun dengan soda api serta merendamnya bersama kaporit. "Ternyata berhasil, lalu kami bagi-bagi tugas," tutur Rini.


Gihon bertugas sebagai pengumpul daun mangga, Rini menggunting dan memasak daun sampai siap pakai, Olid jadi tukang seterika daun, Reni yang mengelem daun, sedangkan Dayang jadi penjahit dompet.


Dayang, Rini, Reni, dan Gihon merupakan mahasiswa jurusan ilmu kelautan dan perikanan. Cuma Olid yang beda jurusan, yakni akutansi prodi akuntansi sektor publik. Mereka sudah lama berteman, jadi selalu kompak dan nggak ada istilah gengsi menjalankan tugas.


"Tak malu lah dilihat orang waktu saya pungut daun mangga di dekat rumah atau jalan. Paling- paling mereka bingung kenapa saya ambil daun, padahal kan sama saja memungut duit," ujar Gihon, dilanjutkan tawa sahabat-sahabatnya.  


Selain mencari daun yang sudah gugur, cowok berambut cepak ini dengan senang hati menerima  laporann kalau ada pohon mangga ditebang. Dia langsung menuju ke lokasi dan menjalankan tugas menampung daun mangga.


Untuk mendapatkan hasil kerajinan berkualitas baik, sebaiknya digunakan daun mangga berwarna cokelat. Namun daun yang masih hijau juga layak diolah. Soalnya setelah proses perebusan dengan soda api dan perendaman plus kaporit, warna hijau daun akan rontok.


Setelah ditiriskan lalu diangin-anginkan, daun yang masih lengket dan terlipat siap disetrika oleh Olid. "Biarpun cowok, hasil setrikanya dijamin rapi," kelakar Olid. Nah, kalau sudah disetrika, giliran Reni mengelemnya satu per satu sehingga membentuk lembaran-lembaran.


Selanjutnya cewek berkerudung ini memotong lembaran itu dipotong sesuai pola dompet. Lalu dijahit oleh Dayang, sehingga berbentuk dompet. "Ibu saya penjahit, jadi minta diajari bagaimana caranya membuat dompet," tutur Dayang.  
Selain membuat dompet, mereka juga membentuknya menjadi kotak pensil. Sejak Maret 2008 hasil karya tersebut mereka jual ke sekitar kampus dengan kisaran harga Rp 10 ribu dan Rp 15 ribu. 


Wah, dari acara ngumpul-ngumpul jadi dapat penghasilan. "Untung lumayan, soalnya bahannya murah dan gampang didapat. Tapi kami masih sebatas senang menyalurkan hobi saja, hasil penjualan kebanyakan dipakai untuk makan-makan," tambah Rini.


Lantaran sering terkendala minimnya waktu luang di luar jam kuliah, Leaf Craft hingga kini baru memproduksi sekitar 20 item dompet dan kotak pensil. Pangsa pasarnya masih seputar mahasiswa Polnep, mereka pun belum mampu membuat variasi produk yang lebih banyak. Sekarang memang sudah mulai mencoba membuat sandal tetapi masih perlu penyempurnaan. (dlt)

Tribun Pontianak
Bergabung dengan Facebook Tribun Pontianak

e-mail : tribunpontianak@yahoo.com
SMS Hotline : 081257554020
Sirkulasi : (0561) 725588
Iklan : (0561) 7910123

1 dari 1 Halaman Komentar | First Prev Next Last

sukses ya sobat2... tampilkan kreasi yang lebih menarik lagi ya buat kita2, khususnya untuk anak2 pontianak... hehe... by: mely (best friend Reny)

Posted by: mely | Selasa, 2 Februari 2010 | 19:56 WIB

komentar
Name
Email
Alamat
Komentar
Security Code
Jumat, 30 Juli 2010